Review Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas : Sebuah Drama Aksi yang Tragis dan Romantis

- Minggu, 12 Desember 2021 | 22:04 WIB

Diorama.id - Jika kita semua mundur Kembali di tahun 1980-an, maka salah satu kejayaan bagi Indonesia di masa itu adalah Film. Indonesia berhasil menyuguhkan setidaknya 4 genre film yang berlalu lalang di bioskop pada masa itu, seperti genre komedi yang didominasi oleh Warkop DKI, genre Horror yang didominasi oleh film-film yang dibintangi Almarhum Suzana, dan genre drama action yang kebanyakan didominasi dengan adegan fighting dan adegan “panas”.  

Kehadiran film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, mengingatkan kita pada film di zaman 1980-an tersebut. Nuansa colour grading pucat yang identik dengan film 1980-an membuat film ini lebih otentik dan selaras dengan latar ceritanya yang memang mengambil latar 1980an akhir.

Kita dihadirkan oleh Marthino Lio (Ajo Kawir) yang performanya cukup baik dan cukup menyala sebagai tokoh utama, dan juga Ladya Cheryl (Iteung) yang sekarang benar-benar keluar dari sosok Alya AADC yang depresif, dan lemah lembut, kita juga dihadirkan Reza Rahadian (Budi Baik), yang sebagai antagonis performanya masih sangat prima. 

Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas menceritakan tentang seorang preman bernama Ajo Kawir, yang menderita impotensi dikarenakan peristiwa traumatis yang menimpanya saat kecil. Karena hal tersebut ia menjadi sangat beringas, tidak ada hobi lain selain berkelahi. Karena keberingasannya tersebut ia beberapa kali menerima bayaran dari menghajar orang. Sampai akhirnya ia bertemu Iteung yang menjadi salah satu bodyguard dari orang yang dihajar oleh Ajo Kawir. Alih-alih menjadi musuh bebuyutan mereka malah jatuh cinta satu sama lain. Namun satu permasalahannya, Ajo Kawir tidak bisa ereksi. Bagaimana ia bisa memuaskan batin Iteung? 

Seperti film-film sebelumnya, Edwin selalu menghadirkan cerita yang out of the box. Ia selalu berhasil mengangkat peristiwa yang agak tabu, namun sangat sering diperbincangkan di kalangan anak muda ataupun orang tua. Kali ini Sutradara yang mengarahkan film Posesif (Adipati Dolken & Putri Marino) ini sungguh tidak setengah-setengah dalam kinerjanya mengeksekusi film ini. Gambar-gambar yang di hadirkan cukup terlihat jauh dari kesan digital, karena ia merekamnya dengan kamera analog atau film Seluloid, yang mana satu kaleng film hanya bisa merekam gambar selama 10 menit. Ia juga dibantu oleh sinematografer Jepang yaitu Akiko Ashizawa J.S.C. yang kemampuan sinematografinya sudah tidak diragukan lagi.

Sebuah suguhan visual yang luar biasa. Film ini memang tidak menampilkan trik kamera yang skillfull, tapi semua shootnya tidak ada yang melenceng dari cerita. Penonton akan sangat dimanjakan dengan beberapa shoot zoom in yang sedikit extrim seperti film-film jaman dulu, tampilan landscape yang memukau, dan adegan fighting yang tidak banyak potongan. Kita juga patut mengapresiasi usaha para aktor yang melakukan adegan fighting, karena disini mereka semua dilatih oleh Cecep Arif Rahman (The Raid) dan mereka tidak setengah-setengah. Gerakannya liar, presisi, dan kental dengan silat, seperti film-film yang dibintangi Barry Prima dan Advent Bangun terdahulu. 

Halaman:

Editor: Andi Permana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X